Dr. Yani Rahmawati, S.T., M.T. tampil sebagai narasumber dalam kegiatan International Conference on Architecture, Urban, and Settlement (ICARUS) 2025, yang diselenggarakan oleh Program Studi Teknik Arsitektur Politeknik Negeri Pontianak. Konferensi yang berlangsung secara hibrid ini menghadirkan berbagai akademisi, praktisi, dan mahasiswa dari dalam maupun luar negeri. Pada Selasa, 12 November 2025, Dr. Yani hadir secara daring sebagai keynote speaker, membawa perspektif terbaru mengenai inovasi arsitektur yang berkelanjutan.
Dalam sesi presentasinya, Dr. Yani membawakan materi berjudul “Green Meets Lean: A Decarbonisation Strategy to Do More with Less”. Presentasi ini membahas strategi dekarbonisasi yang menggabungkan dua konsep utama: strategi hijau (green strategies) dan manajemen ramping (lean management). Pendekatan ini dirancang untuk membantu sektor arsitektur dan pembangunan perkotaan dapat bertindak lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit, selaras dengan tujuan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dan SDG 13 (Climate Action).
Dr. Yani menjelaskan perbedaan konteks implementasi strategi antara Barat dan Timur. Di Barat (Eropa dan Amerika Serikat), regulasi fokus pada pencapaian target net-zero dan pemugaran bangunan lama (retrofit), dengan insentif berupa subsidi dan kredit pajak. Di wilayah ini, strategi biasanya didorong oleh mekanisme pasar, sementara di Timur (Asia), laju pembangunan baru yang pesat menuntut kebijakan yang menekankan standar bangunan baru dan penggunaan Green Bonds.
Dr. Yani memaparkan prinsip Lean Management dengan menekankan pentingnya mengidentifikasi dan menghilangkan “7 Wastes” atau tujuh pemborosan yang tidak memberi nilai tambah, yaitu: overprocessing (pemrosesan berlebih), defects (cacat), overproduction (produksi berlebih), inventory (stok berlebih), transportation (transportasi), waiting (menunggu), dan motion (gerakan yang tidak perlu). Selain itu, penerapan sistem inventaris Just In Time (JIT) dapat mengoptimalkan rantai pasok, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi konsumsi energi dan emisi karbon.
Untuk mempermudah pemahaman audiens, Dr. Yani menutup sesi dengan penyampaian studi kasus. Kasus-kasus ini menunjukkan bagaimana konsep Green Meets Lean dapat diterapkan secara konkret di dunia nyata. Dengan demikian, peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga contoh praktik yang relevan untuk pembangunan yang lebih berkelanjutan. Selain itu, sesi ini juga mendukung SDG 4 (Quality Education), dengan memastikan peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk berinovasi dan mengambil keputusan tepat dalam bidang arsitektur dan perencanaan perkotaan.
Berita oleh Rindi Dwi Cahyati


