Dalam semangat pembelajaran awal Semester Gasal Tahun Akademik 2025/2026, Program Studi Sarjana Arsitektur menyelenggarakan Archilecture pada Jumat, 12 September 2025 bersama Andy Fisher Workshop (AFW), Singapura, dengan tema “Nature, Nurture, & Narrative: Designing Hotels with People and Place in Mind.” Pada kesempatan kali ini, AFW yang diwakili oleh Radhi Maulanza, Associate AFW. Kegiatan berlangsung di Ruang K1 Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada.
Radhi mengawali presentasi dengan menjelaskan makna dari tiga kata kunci utama dalam tema, yakni Nature, Nurture, dan Narrative. Nature menekankan pada integrasi ekologis yang meliputi iklim, topografi, dan sumber daya alam untuk menjamin keberlanjutan dan ketahanan lingkungan. Nurture merujuk pada dimensi manusia, di mana arsitektur berperan dalam menumbuhkan kesejahteraan, kenyamanan, serta inklusivitas bagi tamu maupun komunitas lokal. Sementara itu, Narrative menempatkan desain dalam kesinambungan budaya dan sejarah, dengan mengintegrasikan kisah tentang tempat dan identitas ke dalam bentuk serta pengalaman ruang.
Radhi kemudian menyoroti pentingnya pariwisata berkelanjutan, di mana arsitektur berperan lebih dari sekadar wujud fisik bangunan. Desain arsitektur yang baik mampu membentuk pengalaman ruang sekaligus melindungi keunikan lokal, antara lain melalui penggunaan material setempat, penerapan strategi desain alami, serta penghormatan terhadap nilai budaya. Dengan demikian, arsitektur dapat menjadi penghubung antara wisatawan, komunitas lokal, dan alam sekitar.
Pada proyek The Westin Cam Ranh, AFW menerapkan pendekatan keberlanjutan dengan mempertahankan topografi alami tapak. Berada di kawasan pantai yang berkontur bukit pasir, AFW merancang strategi permainan elevasi lantai agar perubahan terhadap kontur alam tetap minimal. Mereka juga mengoptimalkan penggunaan material lokal, seperti anyaman tradisional untuk shading, granit lokal pada dinding bronjong (gabion/retaining wall), serta pemberdayaan pengrajin batu bata merah setempat—yang diharapkan dapat terus berlanjut sebagai usaha lokal setelah proyek selesai.
Sementara itu, proyek Sofitel La Corniche di Pulau Comoros dirancang dengan mempertimbangkan kondisi geologis dan pesisir yang kompleks. Tapaknya berada di atas aliran lava vulkanik purba dan sangat dipengaruhi oleh kedekatannya dengan laut. Sebagian besar sisi selatan tapak tidak dapat dikembangkan karena kerentanannya terhadap gelombang tinggi, sehingga area yang memungkinkan pembangunan hotel terbatas. Menanggapi hal tersebut, AFW merancang hotel dengan struktur terangkat (elevated deck) yang memungkinkan ombak melewati bagian bawah bangunan, sehingga energi gelombang dapat terdistribusi secara aman. Dalam konteks arsitektur lokal, Pulau Comoros memiliki pengaruh kuat arsitektur Timur Tengah—bangunan tradisionalnya memiliki courtyard serta mashrabiya (jendela atau balkon menonjol dari fasad, terbuat dari ukiran kayu). Unsur-unsur ini kemudian diadaptasi AFW dalam desain Sofitel La Corniche sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas setempat.
Melalui kedua proyek tersebut, AFW menunjukkan bahwa desain hotel tidak hanya berfungsi sebagai bangunan komersial pendukung pariwisata, tetapi juga dapat memberi makna dan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya—baik bagi komunitas lokal maupun alam yang menaunginya. Hal ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs): SDG 11 – Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 14 – Ekosistem Lautan, SDG 15 – Ekosistem Daratan, SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 9 – Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.



__________________________________________
Berita dan foto oleh Nisrina Amalia Paramanindya.