Prof. Ir. Bakti Setiawan M.A., Ph.D., yang akrab disapa Prof. Bobi, menjadi narasumber dalam acara Knowledge Sharing pada Selasa, 2 Desember 2025. Acara ini diselenggarakan oleh P.T. Sarana Multi Infrastruktur dan memberikan wawasan penting terkait perkembangan pariwisata dan operasional bandara di Indonesia. Prof. Bobi membawakan materi bertajuk “Tourism dan Airport Operations in Indonesia: Current Condition and Its Prospect (Special Case in Heritage Tourism)”.
Dalam pengantarnya, Prof. Bobi menekankan bahwa pariwisata memiliki potensi besar untuk pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan, dan pengentasan kemiskinan. Aspek hospitality dan kreativitas menjadi semakin krusial dalam industri ini. Selain itu, fasilitas transportasi seperti bandara, pelabuhan, dan terminal menjadi kunci, di mana aksesibilitas menjadi faktor awal bagi perkembangan pariwisata di suatu wilayah.
Prof. Bobi memaparkan konsep Tourism as Industry dengan menggunakan pendekatan 5A: Atraksi, Aksesibilitas, Akomodasi, Aktivitas, dan Amenitas. Ia menekankan pentingnya memahami tiga elemen utama dalam pariwisata: Suplay (destinasi, atraksi, transportasi), Demand (wisatawan), dan Intermediaries (agen atau tour operator). Dinamika sisi demand juga perlu diperhatikan, termasuk latar belakang sosio-kultural, ekonomi, preferensi, dan kebutuhan khusus wisatawan.
Salah satu fokus utama materi adalah Heritage Tourism atau Pariwisata Cagar Budaya. Prof. Bobi menjelaskan bahwa warisan budaya dibagi menjadi tangible (benda, bangunan, situs, kawasan) dan intangible (tradisi, kehidupan sehari-hari, event khusus). Dari sisi suplay, contohnya di Yogyakarta, terdapat bangunan bersejarah seperti Kraton, museum, serta pasar tradisional. Sementara itu, sisi intangible kaya akan pertunjukan wayang dan berbagai festival seni. Keberhasilan konservasi sangat bergantung pada perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan inovasi kreatif.
Prof. Bobi juga menyoroti potensi demand untuk heritage tourism yang sangat besar. Pertumbuhan kelas menengah global, ketertarikan generasi muda terhadap isu heritage yang didorong media sosial, meningkatnya konektivitas global, serta kemudahan pariwisata lintas negara menjadi faktor pendorong. Ia menekankan beberapa langkah penting untuk mengembangkan pariwisata sebagai industri, antara lain pelestarian, pengelolaan Historic Urban Landscape, integrasi dengan urban regeneration, penggunaan instrumen KLHS, AMDAL, HIA, serta memastikan kesejahteraan warga lokal melalui kolaborasi dan pendekatan baru seperti PPP dan Community-Based Tourism (CBT).
Di bagian penutup, Prof. Bobi menekankan pentingnya sinergi antara pariwisata dan pelestarian cagar budaya. Heritage tourism dianggap sebagai tren baru yang ramah terhadap cagar budaya, namun tetap membutuhkan mitigasi inovatif terhadap dampak pariwisata. Pembangunan tata ruang dan infrastruktur, termasuk bandara sebagai entry point utama, dapat menjadi alat efektif untuk menciptakan sinergi tersebut dan memastikan pariwisata yang berkelanjutan.
Materi yang disampaikan Prof. Bobi sangat berkaitan dan mendukung SDG 8 (Lapangan Kerja dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui pengembangan pariwisata; SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) melalui pengelolaan heritage tourism; SDG 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab) melalui praktik pariwisata ramah lingkungan; dan SDG 17 (Kemitraan untuk Tujuan) melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata dapat memberikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan. Dengan pendekatan ini, pariwisata tidak hanya menguntungkan sektor ekonomi, tetapi juga memperkuat pelestarian budaya dan kesejahteraan masyarakat lokal.
Berita oleh Rindi Dwi Cahyati

